Senin, 10 Februari 2014

Atsar Thaawuus tentang Anjuran Tahlilan 7 Hari Berturut-Turut

Abu Nu’aim rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا أَبِي، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا الأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ: قَالَ طَاوُسٌ: " إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الأَيَّامِ "
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Al-Qaasim : Telah menceritakan kepada kami Al-Asyja’iy, dari Sufyaan (Ats-Tsauriy), ia berkata : Telah berkata Thaawus : “Sesungguhnya orang yang meninggal akan terfitnah (diuji) dalam kuburnya selama 7 hari. Dulu mereka[1] menyukai untuk memberikan makanan dari mereka (yang meninggal) pada hari-hari tersebut” [Hilyatul-Auliyaa’ 4/11].
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hajar[2] rahimahullah dalam Al-Mathaalibul-‘Aaliyyah no. 834.
Keterangan para perawinya adalah sebagai berikut :
1.     Abu Bakr bin Maalik, namanya adalah : Ahmad bin Ja’far bin Hamdaan bin Maalik bin Syabiib Al-Baghdaadiy Al-Qathii’iy Al-Hanbaliy, Abu Maalik; seorang yang tsiqah. Lahir tahun 274 H dan wafat tahun 368 H [Lihat : Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 16/210-213 dan Mishbaarul-Ariib 1/75 no. 1316].
2.     ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad Asy-Syaibaaniy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Baghdaadiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-12, dan wafat tahun 290 H. Dipakai oleh An-Nasaa’iy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 490 no. 3222].
3.     Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad Asy-Syaibaaniy, Abu ‘Abdillah Al-Marwaziy; seorang imam yang tsiqah, haafidh, faqiih, lagi hujjah. Termasuk thabaqah ke-10, lahir tahun 164 H, dan wafat tahun 241 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 98 no. 97].
4.     ‘Ubaidullah bin ‘Ubaidirrahmaan Al-Asyja’iy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah lagi ma’muun – orang yang paling tsabt kitabnya dalam riwayat dari Ats-Tsauriy. Termasuk thabaqah ke-9, dan wafat tahun 182 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 642 no. 4347].
5.     Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauriy, Abu ‘Abdillah Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, haafidh, faqiih, ‘aabid, imam, lagi hujjah. Termasuk thabaqah ke-7, lahir tahun 97 H, dan wafat tahun 161 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 394 no. 2458].
6.     Thaawuus bin Kaisaan Al-Yamaaniy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Humairiy; seorang yang tsiqah, faqiih, lagi faadlil. Termasuk thabaqah ke-3, wafat tahun 106 H, dan dikatakan juga setelah itu. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 462 no. 3026].
Dapat kita lihat bahwa para perawi riwayat di atas adalah tsiqaat. Namun, rijaal tsiqaat tidaklah langsung menjadikan satu riwayat shahih[3] karena ternyata riwayat tersebut ma’luul lagi dla’iif.
Sufyaan Ats-Tsauriy lahir pada tahun 97 H di Kuufah, sedangkan Thaawuus bin Kaisaan wafat 106 H di Makkah. Hingga tahun wafatnya Thaawuus, Sufyaan belum melakukan rihlah ke Makkah[4]. Selain itu, tidak masyhur penukilan bahwa Thaawuus termasuk syuyuukh Ats-Tsauriy rahimahumallah.
Ada riwayat lain :
عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ " إِنَّمَا يُفْتَنُ رَجُلانِ مُؤْمِنٌ، وَمُنَافِقٌ، أَمَّا الْمُؤْمِنُ: فَيُفْتَتَنُ سَبْعًا، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ: فَيُفْتَنُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، وَأَمَّا الْكَافِرُ: فَلا يُسْأَلُ عَنْ مُحَمَّدٍ، وَلا يَعْرِفُهُ "
Dari Ibnu Juraij, ia berkata : Telah berkata ‘Abdullah bin ‘Umar : “Dua orang yaitu orang mukmin dan munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari. Orang munafiq selama empat puluh hari. Adapun orang kafir, maka jangan ditanya dari Muhammad, ia tidak mengetahuinya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 3/590 no. 6757].
Riwayat lemah karena munqathi’. Ibnu Juraij tidak pernah bertemu dengan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa. Selain itu, Ibnu Juraij sendiri seorang yang tsiqah namun sering melakukan tadlis dan irsaal.[5]
Riwayat yang shahih yang berkaitan dengan permasalahan ini adalah :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ. ح وحَدَّثَنَا شُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ أَبُو الْفَضْلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ إِسْمَاعِيل بْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ، قَالَ: " كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahyaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur : Telah menceritakan kepada kami Husyaim (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Syujaa’ bin Makhlad Abul-Fadhl, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Ismaa’iil bin Abi Khaalid, dari Qais bin Abi Haazim, dari Jariir bin ‘Abdillah Al-Bajaliy, ia berkata : “Kami (para shahabat) menganggap menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka (kepada para tamu) termasuk bagian dari niyahah (meratapi mayit)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 1612].
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 2/307-308 no. 2279.
Semua perawinya tsiqaat, hanya saja Husyaim seorang mudallis[6] dan di sini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah. Husyaim mempunyai mutaba’ah dari Nashr bin Baab sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad[7] 2/204.
Nashr bin Baab seorang yang lemah[8].
Riwayat di atas dikuatkan oleh :
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، عَنْ طَلْحَةَ، قَالَ: قَدِمَ جَرِيرٌ عَلَى عُمَرَ، فَقَالَ: " هَلْ يُنَاحُ قِبَلُكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ ؟ قَالَ: لَا " قَالَ: " فَهَلْ تَجْتَمِعُ النِّسَاءُ عندَكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ وَيُطْعَمُ الطَّعَامُ؟ قَالَ: نَعَمْ "، فَقَالَ: " تِلْكَ النِّيَاحَةُ "
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Maalik bin Mighwal, dari Thalhah, ia berkata : Jarir mendatangi ‘Umar, lalu ia (‘Umar) berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan makan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/487].
Semua perawinya tsiqaat, hanya saja ada kekhawatiran keterputusan antara Thalhah dengan Jariir. Ada syaahid yang lain :
ثنا عَبْدُ الْحَمِيدِ، قَالَ: أنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، قَالَ: أنا عُمَرُ أَبُو حَفْصٍ الصَّيْرَفِيُّ، وَكَانَ ثِقَةً، قَالَ: ثنا سَيَّارٌ أَبُو الْحَكَمِ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: " كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ بَعْدَمَا يُدْفَنُ مِنَ النِّيَاحَةِ "
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Hamiid, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Yaziid bin Haaruun, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Umar bin Abi Hafsh Ash-Shairaafiy - dan ia seorang yang tsiqah - ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sayyaar Abul-Hakam, ia berkata : Telah berkata ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu : “Dulu kami menganggap berkumpul-kumpul di sisi keluarga mayit setelah si mayit dikuburkan termasuk niyahah (meratap)” [Diriwayatkan oleh Aslam bin Sahl dalam Taariikh Waasith hal. 26 no. 206].
Semua perawinya tsiqaat, hanya saja Sayyaar tidak pernah bertemu dengan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu.
Oleh karena itu, dengan keseluruhan jalan riwayatnya, atsar Jariir bin Abdillah radliyallaahu ‘anhu adalah shahih.[9]
Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata :
وَأَكْرَهُ النِّيَاحَةَ عَلَى الْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَأَنْ تَنْدُبَهُ النَّائِحَةُ عَلَى الِانْفِرَادِ، لَكِنْ يُعَزَّى بِمَا أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الصَّبْرِ وَالِاسْتِرْجَاعِ، وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ، ....
“Dan aku membenci perbuatan niyaahah (meratap) terhadap mayit setelah kematiannya dan orang yang meratap tersebut menyebut-nyebut kebaikan si mayit secara tersendiri. Akan tetapi hendaknya ia dihibur dengan sesuatu yang diperintahkan Allah agar bersabar dan mengucapkan kalimat istirjaa’. Dan aku juga membenci[10] berkumpul-kumpul di keluarga di mayit meskipun tidak disertai adanya tangisan, karena hal tersebut akan menimbulkan kesedihan dan membebani materi/bahan makanan (bagi keluarga si mayit)...” [Al-Umm, 1/248].
Kesimpulan : Tahlilan sampai tujuh hari ternyata (BUKAN) tradisi para sahabat Nabi Saw dan para tabi'in.
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perum ciomas permai – 15122012 – 22:24 – revisi : 16122012, 17:00].



[1]      ‘Mereka’ yang dimaksudkan oleh Thaawus di sini adalah sebagian shahabat dan taabi’iin yang semasa dengannya.
[2]      Riwayatnya adalah :
وَقَالَ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا الأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ: قَالَ طَاوُسٌ: " إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، وَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهُمْ تِلْكَ الأَيَّامَ "
[4]      Bahkan ia (Sufyaan) belum keluar dari negerinya (Kuufah).
أَخْبَرَنَا ابن رزق، قال: أَخْبَرَنَا عثمان بن أحمد، قال: حَدَّثَنَا حنبل بن إسحاق، قال: قال أبو نعيم: خرج سفيان الثوري من الكوفة سنة خمس وخمسين ومائة ولم يرجع، ومات سنة إحدى وستين ومائة، وهو ابن ست وستين فيما أظن
Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Rizq, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami 'Utsmaan bin Ahmad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaaq, ia berkata : Telah berkata Abu Nu'aim (Al-Fadhl bin Dukain) : "Sufyaan Ats-Tsauriy keluar dari Kuufah pada tahun 155 H, dan kemudian ia tidak kembali lagi. Ia meninggal tahun 161 H dalam usia 66 tahun sebagaimana yang aku kira" [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad, 10/242 - biografi Sufyaan Ats-Tsauriy].
Sanad riwayat ini shahih, semua perawinya tsiqaat.
[5]      ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-‘Aziiz bin Juraij Al-Qurasyiy Al-Umawiy, Abul-Waliid atau Abu Khaalid Al-Makkiy - terkenal dengan nama Ibnu Juraij; seorang yang tsiqah, faqiih, lagi faadlil, akan tetapi banyak melakukan tadlis dan irsal. Termasuk thabaqah ke-6, wafat tahun 150 H, atau dikatakan setelahnya. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 624 no. 4221].
Ia tidak pernah berjumpa seorang pun dari kalangan shahabat [Jaami’ut-Tahshiil, hal. 229-230 no. 472].
[6]      Husyaim bin Basyiir bin Al-Qaasim bin Diinaar As-Sulamiy, Abu Mu’aawiyyah bin Abi Khaazim; seorang yang tsiqah lagi tsabt, namun banyak melakukan tadlis dan irsal khafiy. Termasuk thabaqahke-7, lahir tahun 104/105 H, dan wafat tahun 183 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1023 no. 7362].
[7]      Riwayatnya adalah :
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ بَابٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ قَيْسٍ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ، قَالَ: " كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ "
[8]      Beberapa ulama mengkritiknya dengan keras, seperti Ibnu Ma’iin, Zuhair bin Harb, Abu Haatim, Juzjaaniy, dan yang lainnya. Akan tetapi Ahmad bin Hanbal mentautsiqnya dan membelanya saat mengetahui beberapa ulama mendustkannya. Ia (Ahmad) mengatakan bahwa Nashr bin Baab diingkari para ulama saat ia (Nashr) meriwayatkan dari Ibraahiim Ash-Shaaigh. Ibnu Sa’d juga mengatakan hal yang sama dengan Ahmad. Ahmad adalah ulama yang terkenal muta’addil dalam urusan al-jarh wat-ta’diil, dan ia juga termasuk orang yang paling tahu mengenai gurunya, Nashr bin Baab, sehingga mengambil riwayat darinya. Namun bukan berarti jarh para ulama kepada Nashr tidak memberikan pengaruh. Nashr adalah seorang yang dla’iif yang riwayatnya dapat digunakan sebagai i’tibaar, hanya saja tidak benar tuduhan dusta yang dialamatkan kepadanya. Wallaahu a’lam.
[9]      Atsar Jariir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu tersebut dishahihkan oleh An-Nawawiy dalam Al-Majmuu’ 5/285, Ibnu Katsiir dalam Irsyaadul-Faqiih 1/241, Al-Buushiiriy dalam Zawaaidu Ibni Maajah  hal. 236, Ibnu Hajar Al-Haitamiy dalam Tuhfatul-Muhtaaj 3/207, Asy-Syaukaaniy dalam As-Sailul-Jaraar 1/372, dan yang lainnya.
[10]     Makna ‘makruh’ dalam perkataan Asy-Syaafi’iy rahimahullah di sini adalah tahriim (pengharaman), karena sebelumnya ia juga mengatakan tentang makruhnya perbuatan niyaahah (meratap). Perkataan itu satu rangkaian. Meratap sendiri sudah jelas hukumnya, yaitu haram, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ، الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ
Dua perkara yang dapat membuat manusia kufur : Mencela keturunan dan niyaahah (meratapi mayit)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 67].
Ummu ‘Athiyyah berkata :
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا عَنِ النِّيَاحَةِ "
“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami dari perbuatan niyaahah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3127; shahih].

Sumber :  http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/12/atsar-thaawuus-tentang-anjuran-tahlilan.html






Minggu, 09 Februari 2014

Kamu Koq gak Ngadain Tahlilan Sih? Kamu Muhammadiyah Ya ? PERSIS Ya ? Al Irsyad Ya ? Salafi Ya ? Wahabi Ya ?

SIKLUS KEHIDUPAN

1. Saling suka, saling cinta. Bersentuhan kepada yang bukan mahram hukumnya haram.




2. Melamar. Tidak boleh melamar seorang wanita yang sudah dipinang oleh lelaki lain.




3. Melanjutkan ke Pernikahan. Perhatikan mahar-nya, wali, saksi dan Walimatul 'Ursy (Pesta perkawinan)






4. Masa Kehamilan. Adab-adab berhubungan suami Istri




5. Kelahiran dan berbagai adab-adabnya.




6. Aqiqah pada hari ke 7. Mencukur Rambut, Memberi Nama dan Memotong Hewan Aqiqah




7. Khitan



8. Mendidik anak adalah kewajiban orang tua




9. Setelah dewasa, kemudian menikah. Ada waktunya sakit. Bagaimana Adab-adab menjenguk orang sakit.



10. Meninggal Dunia. Mentalqinkan selagi hidup, Merawat jenazah, Memandikan, mengkafani dan Mensholati.



11. Dimakamkan. Perhatikan, adab-adab dan Sunnah-sunnah Nabi.



12. Koq gak ada perintah untuk bertahlilan ya ? [selamatan 1,3,7,40,100,1000 kematian dst] Kalo Allah dan Rasul-Nya gak nyuruh, siapa yang nyuruh ya ????? Kalau Kiyai, Tuan Guru, Syaikh dan Habib yang nyuruh, berarti mereka lebih hebat daripada Allah dan Rasulullah dong....Nah looooo !!!!!


13. Naaah, banyak-banyaklah kita membaca. Baik Al Qur'an atau Kitab-kitab Hadits serta kitab-kitab yang mu'tabar lainnya. Supaya kita mengerti dalil-dalilnya. Supaya kita gak taqlid dan gampang dibodohin orang lain. Sebab Islam mengharuskan setiap ummatnya Cerdas Individual.



14. Kalau sudah mengerti, maka janganlah melakukan amalan-amalan bid'ah. Sebab Rasulullah telah bersabda : Setiap bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat di neraka.





___________________________



Kehidupan dan Kematian Adalah Dua Keniscayaan

Kamu Muhammadiyah Ya ? PERSIS Ya ? Al Irsyad Ya ? Salafi Ya ? Wahabi Ya ? Kalimat itulah yang sering dilontarkan oleh mereka yang anti pati kepada mereka yang tidak melakukan Tahlilan [selamatan Kematian] apabila ada sanak keluarganya yang meninggal dunia.

Maka katakanlah kepada mereka;

وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah Muslimun (orang-orang yang berserah diri). [QS. Ali Imron :52]

KEMATIAN dan KELAHIRAN adalah dua keniscayaan. Satu kegembiraan dan satunya kesedihan. Dan tidak mungkin Islam tidak mengatur prosesi-prosesi yang bersangkutan dengan kedua hal tersebut, Islam telah mengaturnya dengan mencontoh Rasulullah orang yang PALING MENGERTI cara bersosialisi/bermasyarakat. Beliau memiliki akhlakul karimah, hati yang penyayang, paling santun dan lembut hatinya. Beliau paling mengerti bagaimana cara menghibur orang dan mendo'akan orang yang KEMATIAN dan musibah lainnya. Bagimana cara bergembira bersama orang yang lagi senang, baik menyambut KELAHIRAN dan lainnya. Pada kasus kematian, Rasulullah tidak pernah mencontohkan TAHLILAN [dlm arti : Selamatan Kematian].

RASULULLAH ADALAH ORANG YANG PALING MENGERTI CARA BERSOSIALISI DAN BERMASYARAKAT

"Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilahi" [seandainya Selamatan kematian itu baik, niscaya Rasulullah dan para sahabatnya paling bersegera melakukannya, sebab perkara apapun yang bernilai baik (hasanah) dalam rangka taqarrub kepada Allah tidak akan pernah mereka lewatkan]. Rasulullah dan para sahabat tidak melakukan selamatan kematian bukan karena Rasulullah tidak punya uang atau tidak punya waktu.

Maka sungguh na'if bagi mereka yang berdalih untuk melakukan Selamatan kematian hanya berdasarkan pendapat bukan dalil. Seandainyapun ada dalilnya :

MAKA ALANGKAH NAI'FNYA RASULULLAH TIDAK MENGERTI BAHWA KALAU TERNYATA ADA "DALILNYA" UNTUK MELAKUKAN TAHLILAN, PADAHAL AL QUR'AN TURUN DI SISI MEREKA DAN RASULULLAH MEMBIMBING MEREKA [PARA SAHABAT] SECARA LANGSUNG. Padahal di jaman Rasulullah para sahabat banyak yang mati syahid, bahkan ketika Istri beliau Siti Khadijah dan anak beliau Al Qasim dan Ibrahim meninggal, tidak ada keterangan Rasulullah mentahlili mereka [red: selamatan kematian].

Ketahuilah, pendapat seorang ulama bukanlah SEBUAH DALIL. Pendapat ulama, mustahil dapat mengalahkan IJMA' SAHABAT.

Begitu Sempurnanya ajaran Islam, Mengatur Masalah Kematian dan Kelahiran

Ketahuilah, Islam adalah ad Dien yang sempurna, sehingga tidak perlu lagi penambahan dan pengurangan syari'atnya. Apa-apa yang telah menjadi syari'at agama sejak diturunkannya QS. Al Maidah : 3, maka ia tetap menjadi syari'at sampai sekarang dan nantinya tanpa ada perubahan.

Hidup dan mati adalah dua hal yang pasti terjadi. Islam sangat mengatur bagaimana tuntunannya dalam menghadapi kedua perkara ini. Proses kelahiran diawali dengan berbagai prosesi dalam kehidupan. Kalau kita mau mendaftar urut kebelakang, niscaya secara sederhana dan singkat kita akan mendapatkan urutan-urutan sebagai berikut; [kalau ada yang kurang mohon ditambahin]

Sebelum adanya kelahiran;

a. Saling kenal antara lawan jenis, kemudian dilanjutkan dengan ta'aruf, meminang, dan proses selanjutnya jenjang pernikahan.

b. Islam sebagai sebuah agama, telah mengatur hal-hal tersebut dengan sedemikian jelas, karena Islam datang untuk mempermudah bukan untuk mempersulit. Dalam prosesi perkenalan/ta'aruf, Islam sudah mengajarkan etika-etikanya. Melarang dua insan yang berbeda jenis kelamin untuk berdua-duaan ditempat yang tersembunyi dan terang-terangan tanpa ada mahramnya. Islam melarang ikhtilat, melarang bersalam-salaman (musafahah) apalagi cipika-cipiki kepada seseorang yang bukan mahramnya.

c. Dalam hal meminangpun sudah diatur dalam syariat Islam. Tidak boleh meminang seseorang yang sudah dipinang oleh orang lain.

d. Menjelang pernikahan, uang mahar dan hingga pesta pernikahan (walimatul ursy), juga telah diatur kaifiyatnya dalam syari'at Islam.

e. Setelah pernikahan yang sah secara syar'i, terjadilah kontak pisik antara dua lawan jenis tadi, yang selanjutnya terjadi kehamilan. Dalam proses sebelum kehamilan, Islam telah mengatur adab-adab dalam bersenggama, bercumbu dan do'a apa saja yang mesti harus dibaca.

f. Pada masa kehamilanpun telah diatur adab-adabnya oleh syariat Islam.

Setelah adanya kelahiran;

a. Adanya prosesi aqiqah pada hari ke tujuh, di dalamnya terkandung pemberian nama, pencukuran dan penyembelihan hewan aqiqah.

b. Setelah dewasa anak dididik, diberi nafkah yang layak dan tidak lupa dikhitan.

c. Selanjutnya sang anak menjadi dewasa, dan pasti melewati fase-fase sebelum kelahiran di atas, karena sudah merupakan sunnatullah.

d. Setelah siap berumah tangga, sang anak kemudian di nikahkan, dengan syarat-syarat yang telah diatur oleh Islam, tentunya atas izin dari sang anak atau walinya, adaNya wali nikah dll.

Selanjutnya, siklus selalu berputar mengikuti sunatullah. Dan endingnya adalah kematian.

Sebelum datang kematian biasanya ada gejala sakit tetapi ada juga yang tiba-tiba, karena kematian adalah urusannya Allah.

a. Bagi yang sakit, hendaklah kita do'akan kesembuhannya dan semoga diberi kesabaran. Islam telah mengatur adab-adab orang sakit dan menjenguk orang sakit.

b. Apabila ajal menjemput, maka tuntunlah talkin sebelum nafas lepas dari kerongkongan, jadi bukan setelah nyawa/ruh berpisah dari tubuh.

c. Perlakukan manyit dengan adab-adab pengaturan jenazah

d.............dimandikan, dikafani, disholati, dikuburkan...dst.

f....Lho kok gak ada tuntunan dari Rasulullah untuk TAHLILAN (selamatan kematian)? Nah Lhoooooo......


Mencoba menyampaikan dengan bahasa yang sederhana. Mohon ma'af masih belum sempurna, masih ada penambahan dan perbaikan............Mohon masukan dari ikhwan dan akhwat sekalian, jika ada hal-hal yang salah dan masih kurang ! [Anwar Baru Belajar]


Sumber :http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/kamu-koq-gak-ngadain-tahlilan-sih-kamu.html