Tahlilan yang dimaksudkan di sini bukanlah tahlilan menurut tinjauan
Bahasa Arab. Dalam Bahasa Arab, makna tahlilan adalah mengucapkan laa ilaaha illallaah. Yang dimaksud dengan ritual tahlilan di sini adalah peringatan kematian yang dilakukan pada hari ke-3, 7, 40, 100 atau 1000
Berikut ini
kutipan dari kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin, suatu buku yang
terkenal dalam kalangan NU untuk belajar fikih syafi’i pada level
menengah atau lanjutan.
ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه،
“Makruh hukumnya keluarga dari yang meninggal dunia duduk untuk
menerima orang yang hendak menyampaikan belasungkawa. Demikian pula
makruh hukumnya keluarga mayit membuat makanan lalu manusia berkumpul
untuk menikmatinya.
لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة،
Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jarir bin
Abdillah al Bajali-seorang sahabat Nabi-, “Kami menilai berkumpulnya
banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga
mayit membuatkan makanan setelah jenazah dimakamkan adalah bagian dari
niyahah atau meratapi jenazah”.
ويستحب لجيران أهل الميت – ولو أجانب – ومعارفهم – وإن لم يكونوا جيرانا
– وأقاربه الاباعد – وإن كانوا بغير بلد الميت – أن يصنعوا لاهله طعاما
يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل.
Dianjurkan bagi para tetangga-meski bukan mahram dengan jenazah,
kawan dari keluarga mayit-meski bukan berstatus sebagai tetangga-dan
kerabat jauh dari mayit-meski mereka berdomisili di lain daerah-untuk
membuatkan makanan yang mencukupi bagi keluarga mayit selama sehari
semalam semenjak meninggalnya mayit. Hendaknya keluarga mayit agak
dipaksa untuk mau menikmati makanan yang telah dibuatkan untuk mereka.
ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.
Haram hukumnya menyediakan makanan untuk wanita yang meratapi mayit karena tindakan ini merupakan dukungan terhadap kemaksiatan
وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام وجواب منهم لذلك.
Aku- yaitu penulis kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin- telah membaca
sebuah pertanyaan yang diajukan kepada para mufti di Mekkah mengenai
makanan yang dibuat oleh keluarga mayit dan jawaban mereka untuk
pertanyaan tersebut.
(وصورتهما).
Berikut ini teks pertanyaan dan jawabannya.
ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في
العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار
الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن
غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة
عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة.
Pertanyaan, “Apa yang dikatakan oleh para mufti yang mulia di tanah haram –moga ilmu mereka manfaat untuk banyak orang sepanjang zaman–
tentang tradisi yang ada di suatu daerah. Tradisi ini hanya dilakukan
oleh beberapa orang di daerah tersebut. Tradisi tersebut adalah jika
ada seorang yang meninggal dunia lantas datanglah kawan-kawan mayit dan
tetangganya untuk menyampaikan belasungkawa maka para kawan mayit dan
tetangga ini menunggu-nunggu adanya makanan yang disuguhkan. Karena
sangat malu maka keluarga mayit sangat memaksakan diri untuk menyiapkan
beragam jenis makanan lalu menyuguhkannya kepada para tamu meski dalam
kondisi yang sangat kerepotan.
فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على
الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية،
المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل
جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟ أفيدوا بالجواب بما هو منقول
ومسطور.
Seandainya penguasa di daerah tersebut –karena belas kasihan dengan rakyat dan sayang dengan keluarga mayit–
melarang keras perbuatan di atas agar rakyatnya kembali berpegang
teguh dengan sunah sebaik-baik makhluk yang pernah bersabda, “Buatkan
makanan untuk keluarga Ja’far”. Apakah penguasa tersebut akan
mendapatkan pahala karena melarang kebiasaan di atas? Berilah kami
jawaban secara tertulis”.
(الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده.
اللهم أسألك الهداية للصواب.
Jawaban, “Segala puji hanyalah milik Allah. Semoga Allah senantiasa menyanjung junjungan kita, Muhammad,
keluarga, sahabat dan semua orang yang meniti jalan mereka. Aku
meminta petunjuk untuk memberikan jawaban yang benar kepada Allah.
نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع
المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به
الاسلام والمسلمين.
Betul, acara kumpul-kumpul di rumah duka dan kegiatan membuat makanan
yang dilakukan oleh banyak orang adalah salah satu bentuk bid’ah munkarah.
Sehingga penguasa yang melarang kebiasaan tersebut akan mendapatkan
pahala karenanya. Semoga Allah meneguhkan kaidah-kaidah agama dan
menguatkan Islam dan muslimin dengan sebab beliau.
قال العلامة أحمد بن حجر في (تحفة المحتاج لشرح المنهاج): ويسن لجيران أهله – أي الميت – تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم،
al-’Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah al Muhtaj li Syarh al Minhaj
mengatakan, “Dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit untuk
menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan keluarga mayit selama
sehari dan semalam
للخبر الصحيح اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم.
Dalilnya adalah sebuah hadits yang sahih, “Buatkan makanan untuk
keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang menyibukkan
mereka –dari menyiapkan makanan–”
ويلح عليهم في الاكل ندبا، لانهم قد يتركونه حياء، أو لفرط جزع.
Dianjurkan hukumnya keluarga mayit untuk agak dipaksa agar mau
menikmati makanan yang telah disiapkan untuk mereka karena boleh jadi
mereka tidak mau makan karena malu atau sangat sedih.
ويحرم تهيئه للنائحات لانه إعانة على معصية،
Haram hukumnya menyediakan makanan untuk wanita yang meratapi mayit karena tindakan ini merupakan dukungan terhadap kemaksiatan
وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك،
Kebiasaan sebagian orang berupa keluarga mayit membuat makanan lalu mengundang para tetangga untuk menikmatinya adalah bid’ah makruhah. Demikian pula mendatangi undangan tersebut termasuk bid’ah makruhah.
لما صح عن جرير رضي الله عنه: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة.
Dalilnya adalah sebuah riwayat yang sahih dari Jarir, “Kami menilai
berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula
aktivitas keluarga mayit membuatkan makanan setelah jenazah dimakamkan
adalah bagian dari niyahah atau meratapi jenazah”.
ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن.
Alasan logika yang menunjukkan bahwa hal tersebut termasuk niyahah
adalah karena perbuatan tersebut menunjukkan perhatian ekstra terhadap
hal yang menyedihkan
ومن ثم كره اجتماع أهل الميت ليقصدوا بالعزاء، بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم، فمن صادفهم عزاهم.اه.
Oeh karena itu, makruh hukumnya keluarga mayit berkumpul supaya
orang-orang datang menyampaikan bela sungkawa. Sepatutnya keluarga mayit
sibuk dengan keperluan mereka masing-masing lantas siapa saja yang
kebetulan bertemu dengan mereka menyampaikan bela sungkawa.” Sekian
penjelasan dari penulis Tuhfah al Muhtaj.
وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه
فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان
من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.اه.
Dalam Hasyiyah al Jamal untuk kitab Syarh al Manhaj disebutkan, “Termasuk bid’ah munkarah dan makruhah adalah perbuatan banyak orang yang mengungkapkan rasa sedih lalu mengumpulkan banyak orang pada hari ke-40 kematian mayit. Bahkan semua itu hukumnya haram
jika acara tersebut dibiayai menggunakan harta anak yatim atau mayit
meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan hutang atau menimbulkan
keburukan dan semisalnya.” Sekian dari Hasyiyah al Jamal.
وقد قال رسول الله (صلى الله عليه و سلم ) لبلال بن الحرث رضي الله عنه:
يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من
عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada
Bilal bin al Harts, “Wahai Bilal, siapa saja yang menghidupkan salah
satu sunahku yang telah mati sepeninggalku maka baginya pahala semisal
dengan pahala semua orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi
sedikitpun pahala mereka.
ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا.
Sebaliknya siapa saja yang membuat bid’ah yang sesat yang tidak
diridhai oleh Allah dan rasul-Nya maka dia akan menanggung dosa semisal
dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka
sedikitpun”.
وقال (صلى الله عليه و سلم ): إن هذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح،
فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغلاقا للشر.وويل لعبد جعله الله
مفتاحا للشر، مغلاقا للخير.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kebaikan
itu bagaikan simpanan. Simpanan tersebut memiliki kunci. Sungguh
beruntung seorang hamba yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci pembuka
kebaikan dan penutup kejelekan. Celakalah seorang hamba yang dijadikan
oleh Allah sebagai kunci pembuka kejelekan dan kunci penutup kebaikan”.
ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته
للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس
يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه
وتعالى أعلم.
Tidaklah diragukan bahwa melarang masyarakat dari bid’ah munkarah di atas berarti menghidupkan sunah dan mematikan bid’ah,
membuka berbagai pintu kebaikan dan menutup berbagai pintu keburukan.
Banyak orang yang terlalu memaksakan diri untuk melakukan acara di atas
sehingga menyebabkan perbuatan tersebut statusnya adalah perbuatan
yang haram”.
كتبه المرتجي من ربه الغفران: أحمد بن زيني دحلان – مفتي الشافعية بمكة المحمية – غفر الله له، ولوالديه، ومشايخه، والمسلمين.
Demikianlah fatwa tertulis yang ditulis oleh Ahmad bin Zaini Dahan,
mufti Syafi’i di Mekkah. Moga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya,
para gurunya dan seluruh kaum muslimin.
(الحمد لله) من ممد الكون أستمد التوفيق والعون.
Segala puji hanyalah milik Allah. Kepada zat yang memberi nikmat
untuk seluruh makhluk aku-mufti Hanafi-memohon taufik dan
pertolongan-Nya.
نعم، يثاب والي الامر – ضاعف الله له الاجر، وأيده بتأييده – على منعهم عن تلك الامور التي هي من البدع المستقبحة عند الجمهور.
Betul, penguasa tersebut- moga Allah berikan kepadanya pahala yang
berlipat ganda dan moga Allah selalu menolongnya- akan mendapatkan
pahala dengan melarang masyarakat melakukan acara tersebut yang
berstatus sebagai bid’ah yang jelek menurut mayoritas ulama.
قال في (رد المحتار تحت قول الدر المختار) ما نصه: قال في الفتح: ويستحب
لجيران أهل الميت، والاقرباء الاباعد، تهيئة طعام لهم يشبعهم يومهم
وليلتهم، لقوله (صلى الله عليه و سلم ): اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم
ما يشغلهم.حسنه الترمذي، وصححه الحاكم.
Penulis kitab Radd al Muhtar yang merupakan penjelasan untuk kitab al
Durr al Mukhtar mengatakan sebagai berikut, “Dalam kitab al Fath
disebutkan, dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit dan kerabat
jauh mayit untuk menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan
mereka selama sehari dan semalam mengingat sabda Nabi, “Buatkan makanan
untuk keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang
menyibukkan mereka-dari menyiapkan makanan-”. Hadits ini dinilai hasan
oleh Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al Hakim.
ولانه بر ومعروف،
Menyediakan makanan untuk keluarga mayit adalah kebaikan.
ويلح عليهم في الاكل، لان الحزن يمنعهم من ذلك، فيضعفون حينئذ.
Hendaknya keluarga mayit agak dipaksa untuk menikmati makanan yang
disediakan untuk mereka karena kesedihan menghalangi mereka untuk
berselera makan sehingga mereka malas untuk makan”.
وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة.
Penulis Radd al Muhtar juga mengatakan, “Makruh hukumnya bagi
keluarga mayit untuk menyajikan makanan karena menyajikan makanan itu
disyaratkan ketika kondisi berbahagia. Sehingga perbuatan keluarga mayit menyajikan makanan adalah bid’ah.
روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.اه.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih
dari Jari bin Abdillah mengatakan, “Kami menilai berkumpulnya banyak
orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga mayit
membuatkan makanan adalah bagian dari niyahah atau meratapi jenazah”.
Sekian penjelasan penulis kitab Radd al Muhtar-kitab fikih mazhab
Hanafi-.
وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ.
Dalam kitab al Bazzaz disebutkan, “Makruh hukumnya membuat makanan pada hari pertama, ketiga dan ketujuh setelah kematian. Demikian pula, makruh hukumnya membawa makanan ke kuburan di berbagai kesempatan dst”.
وتمامه فيه، فمن شاء فليراجع. والله سبحانه وتعالى أعلم.
Penjelasan detailnya ada di kitab tersebut. Siapa saja yang ingin
penjelasan lengkap silahkan membaca sendiri buku tersebut. Wallahu
a’lam.
كتبه خادم الشريعة والمنهاج: عبد الرحمن بن عبد الله سراج، الحنفي، مفتي مكة المكرمة – كان الله لهما حامدا مصليا مسلما.
Demikianlah fatwa tertulis yang disampaikan oleh pelayan syariat dan
minhaj Islam, Abdurrahman bin Abdillah Siraj al Hanafi, mufti Mekkah
seraya memuji Allah, dan mengucapkan salawat dan salam untuk rasul-Nya.
وقد أجاب بنظير هذين الجوابين مفتي السادة المالكية، ومفتي السادة الحنابلة.
Fatwa yang sama juga disampaikan oleh mufti Maliki dan mufti Hanbali”.
Sumber: Hasyiyah I’anah al Thalibin karya Sayid Bakri bin Dimyati al Mishri juz 2 hal 145-146 terbitan al Haramain Singapura.
Catatan:
Bandingkan penjelasan di atas dengan praktek saudara-saudara kita,
jamaah NU yang hanya mengenal NU secara kultural bukan secara ajaran
sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab NU standar.
Perlu diketahui bahwa Zaini Dahlan adalah ulama syafi’iyyah di
zamannya yang sangat benci dan sangat memusuhi apa yang didakwahkan oleh
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam masalah tauhid. Meski demikian
beliau keras dengan masalah tahlilan. Beliau menilai acara tahlilan
sebagai bid’ah munkarah alias bid’ah yang harus diberantas atau
diingkari. Beliau tidak menilai ritual tahlilan sebagai ajaran Wahabi
yang sangat beliau musuhi. Sehingga anggapan bahwa anti tahlilan
hanyalah pemahaman Wahabi adalah anggapan yang sangat dipaksakan dan
terlalu mengada-ada.
Zaini Dahan ternyata tidak menolerir acara tahlilan dengan alasan
sikap arif terhadap budaya lokal. Bahkan beliau menegaskan bahwa
memberantasnya adalah amalan yang berpahala. Bandingkan dengan sikap
banyak orang NU yang menolak kebenaran dengan alasan sikap arif dengan
budaya lokal, meneladani dakwah Sunan Kalijaga padahal model dakwah
Sunan Kalijaga sendiri ditentang oleh mayoritas wali songo, Sunan Bonang
yang merupakan guru ngaji Sunan Kalijaga, Sunan Giri dll.
Berdasarkan penjelasan mufti Hanafi di atas acara tahlilan adalah bid’ah yang harus diberantas menurut mayoritas ulama.
Sumber : http://ustadzaris.com/ritual-tahlilan-menurut-kitab-nu-1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar